Rabu, 02 April 2014

Hujan

Malam ini, Ku temui langit membasah, Diikuti kilau cahaya bak manik panjang yang menyerupa harmoni guratan Di muramnya potret langit saat ini. Seakan juga berhasrat, Dentum menyahut dari meriamnya, Mencipta irama sumbang nan rancu, Semakin menghidupkan gerangan, Lukisan kacau yang begitu konkret, Tertampak pada raut durja pekat, Kelambu kegelisahan nampak tegas, Kian pekat, lekat tanpa sendat. Tak mustahil bahwasanya ia terlalu lara. Menjadi munafik atas riuh asanya, Nampak payah nuraninya mengelak, Lalu mengapa? Mengapa tak bangkit saja dari peraduannya? Cukup radu dengan menampilkan pesona alaminya, Barangkali, si nalam akan terukir untuknya, Jadi enyahlah! Kau hanya cukup dengan menjadi kenyamananmu sahaja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar