Hai, aku lelah kini.
Kau tak perlu takut padaku,
Tak perlu membuat jarak denganku,
Tak perlu berpikir apapun tentangku.
Aku lelah, aku tahu diri.
Tersebut aku pandai menorehkan luka,
Aku hanya belum mampu membuka kelambu batis dalam perangaianku.
Damaikan rasamu, aku lelah.
Aku tahu diri!
Kau jauh, bertambah tebal tembok beton dari konsepsimu.
Aku...mana mungkin akan berani mendekatimu,
Mengemispun mustahil akan lalu.
Borokku terlalu anyir! Serapat apa lagi aku mampu menyembunyikannya,
Kaupun akan tersedak mencium harumnya.
Maka, aku lelah...
Aku tahu diri!
Mustahil sehelai sutra pun akan membalutku.
Dan akan memandangmu setebal tembok itu,
Aku yakin, hatiku mampu menatapnya.
Sebenarnya, teramat lara menyandang ini sendiri.
Namun, mustahil akan engkau.
Aku yang membuatkan jarak denganmu,
Menderu, memecahkan keangkuhanku.
Akan sial kau bersamaku. Itu ketakutanku.
Bersama siapapun, sial!
Maka, aku tak berani menyandarkan ambisi gilaku pada karya terbaik Tuhan ini.
Teramat indah, dan tak pantaslah si dungu berborok ini memimpikanmu.
Aku akan damai tanpa sajakmu,
Lelah mengorbankan ribuan nalam tak berdosa.
Biarkan kau bernapas lega, tanpa harum berarti.
Harusnya itu langkahku, maka akan iya.
Borok ini semakin teramat meluas,
Aku harus segera tinggalkan manusia.
Berlari dengan mata tertutup,
Mencari sebuah pulau terisolir dari jangkauan manusia-manusia indah.
Dan tak berhaklah aku menyalahkan nasibku.
Maka Tuhan beri kawanku, lalat-lalat nista, belatung rakus yang menggerogoti kerentaan ini.
Mungkin ada yang sudi mengobatiku?
Sungguh, kau teramat indah.
Tak mampu aku melebihkannya.
Kini kau mengerti, betapa kau tak perlu menolehku sekilatpun.
Aku tak akan biarkan sial ada!
Karenanya, bahagiakan dirimu!
Aku tahu diri!
Dan benar-benar ikhlaskan indahmu kini.